Pages

NEWS UPDATE

Berdasarkan keputusan surat dari KOMINFO yaitu mengenai IPP bahwa PT. RADIO GITA PANTURA SLARAS NADA telah resmi untuk menggunakan frekuensi baru yaitu 92,6 fm

TINTAHIJAU.com | Dari Subang untuk Dunia

Sunday, February 24, 2013

WASPADA KENCING TIKUS


Selama ada aktivitas manusia, di sanalah tikus berkembang biak. Saat bencana tiba, baik banjir, letusan gunung api, maupun kebakaran hutan, tikus-tikus pun keluar sarang mencari aman. Pada sisi lain, hal itu menebarkan ancaman leptospirosis pada manusia.

Di negara empat musim, tikus mendekati manusia untuk mencari hangat. Di daerah tropis, tikus mendekati permukiman karena makanan,” kata ahli hama tikus Institut Pertanian Bogor, Swastiko Priyambodo, akhir Januari lalu.

Ini membuat leptospirosis—penyakit yang disebarkan melalui kencing tikus—menjadi penyakit yang ditularkan dari binatang ke manusia dengan sebaran terluas di dunia. Penyakit ini juga ada di negara maju meski tak sebanyak di negara berkembang. Leptospirosis di daerah tropis menyerang saat musim hujan.

Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang patogen (menyebabkan penyakit). Bentuknya spiral, bergerak maju mundur lentur. Panjangnya 10-20 mikromete, tebal 0,1 mikrometer. Sulit diamati.

Bakteri ini biasanya ada di ginjal binatang dan menyebar lewat kencing. Meski sebagian besar dibawa dan ditularkan tikus, sejumlah binatang ternak, peliharaan, atau binatang liar lain bisa membawa bakteri Leptospira ini. Binatang lain pembawa bakteri Leptospira seperti sapi, kambing, babi, domba, anjing, serta kucing.

Leptospirosis dilaporkan pertama oleh Adolf Weil pada 1886. Karena itu, penyakit ini juga dikenal sebagai Weil’s disease. Di Indonesia, pertama kali dilaporkan Van der Scheer di Batavia pada 1892. Meski demikian, Leptospira baru diidentifikasi pada 1915.

Ada dua jenis bakteri Leptospira, yaitu Leptospira L interrogans yang menimbulkan penyakit dan Leptospira L biflexa yang nonpatogen.

Penularan dan kerentanan

Kusmiyati dkk dalam ”Leptospirosis pada Hewan dan manusia di Indonesia” dalam Wartazoa Volume 15 Nomor 4 Tahun 2005 menyebut, sejak keluar dari kencing tikus, bakteri ini bisa hidup di air tawar sekitar sebulan. Bakteri ini peka asam, tetapi di air basa mampu hidup hingga 6 bulan. Mati di air laut, air selokan, atau air kencing tikus tak terencerkan.

Bakteri ini biasanya masuk tubuh manusia secara tak langsung. Leptospira di lingkungan berair atau berlumpur masuk melalui luka. Bakteri ini juga bisa masuk melalui mukosa (jaringan yang mengeluarkan lendir) mulut, hidung, atau mata saat berenang. Penularan langsung dari kencing hewan ke manusia jarang terjadi.

Kelompok rentan leptospirosis, antara lain, petani, pekerja tambang, peternak, nelayan perairan darat, pekerja di rumah potong hewan, dokter dan perawat hewan, serta orang-orang di instalasi pengolah limbah. Mereka yang gemar berolahraga air juga rentan. Warga biasa berisiko tertular setelah banjir.

Pusat Informasi Leptospirosis (The Leptospirosis Information Center) menyebut, masa inkubasi hingga muncul gejala penyakit 3-14 hari. Kadang-kadang sampai 21 hari.

Gejala leptospirosis tak muncul 24 jam pertama sejak kuman masuk. Jika muncul gejala penyakit di rentang waktu itu, kemungkinan besar disebabkan kuman lain yang turut masuk, seperti Escherichia coli atau Cryptosporidium penyebab diare.

Gejala umum leptospirosis adalah demam tinggi, sakit kepala, mual muntah, dan nyeri otot. Jika terjadi peradangan selaput lendir mata, mata menguning, anemia, gangguan saraf, gagal ginjal, pembesaran hati dan limpa hingga kencing darah yang menandakan leptospirosis parah. Namun, hanya 10 persen penderita dengan gejala berat karena terlambat ditangani.

”Banyak orang dan tenaga kesehatan tak waspada leptospirosis karena gejalanya mirip tifus atau demam berdarah,” kata mantan Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti, yang kini bekerja di WHO SEARO.

Untuk itu, pemeriksaan darah dan air seni mutlak untuk memastikan jenis kuman pemicu.

Data global menunjukkan, leptospirosis banyak dialami laki-laki 10-39 tahun. Namun, penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan umur berapa saja.

Agus Priyanto dkk dalam ”Faktor-Faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus di Kabupaten Demak)” dalam Diponegoro University Institutional Repository, 2008, menyebut, tingkat kematian leptospirosis di Indonesia tinggi, yaitu 2,50-16,45 persen. Bahkan, pada penderita berumur 50 tahun lebih, tingkat kematian 56 persen.

Menghindari kontak dengan air terkontaminasi kencing hewan adalah cara termudah mencegah penularan leptospirosis.

No comments:

Post a Comment